ASPIRASIPOS.COM

BEDA & BERIMBANG

Kapan Bencana Corona Akan Berakhir

Pangkalpinang, Aspirasipos.com-Pertanyaan Kapan Corona Indonesia Berakhir atau kapan Virus Corona berakhir membuat ilmuwan penasaran.

Berikut hasil penelitian ilmuwan yang diungkap orang dekat Presiden Jokowi.

Sejak pertama teridentifiksi di Indonesia 2Maret 2020 lalu,Covid-19 atau Virus Corona sudah merenggut ratusan nyawa di Tanah Air.

Virus Corona kini menjadi musuh nomor satu di dunia. Juga di Indonesia.

Khusus di Indonesia, kapan keganasan Corona berakhir?

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Padjaitan mengungkap kabar baik yang diungkapkan para ilmuwan terkait pandemi Virus Corona di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Luhut Binsar Pandjaitan melalui sambungan video call dengan acara Rosi Kompas TV pada Kamis (2/4/2020).

Menurut para Ilmuwan, wabah Virus Corona di Indonesia diprediksi berakhir bulan April.

Hal itu berkenaaan musim di Indonesia yang mulai memasuki musim panas.

“Tapi saya yakin nah ini tadi ada yang kasih masukan,Pak Luhut kok tadi bicara mengenai panas,” ujar Luhut.

Luhut mengatakan demikian, karena setiap hari dia mendapatkan informasi dari para ilmuwan.

“La saya bilang tiap hari orang pinter-pinter kan saya undang,”

Selain itu, hal ini dipengaruhi dengan faktor Indonesia dilewati garis khatulistiwa atau garis equator.

Luhut menjelaskan, hal itu sudah diteliti oleh para pakar dari luar negeri, termasuk dari Harvard University.

“Oh ya hari ini Bapak mengatakan bahwa kita bersyukur ada di Indonesia melewati garis equator, dan itu berdasarkan ahli yang Bapak dengar virus ini akan berakhir di Bulan April, kalau tidak salah Bapak bilang gitu?,” tanya Rosi.

“Ya kan itu dari modeling yang dibuat, saya hanya baca dan mendengar dari peneliti-peneliti kita, maupun tulisan-tulisan-tulisan dari Cale, Cornel bahkan dari Harvard membuat itu,” jawab Luhut.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa hampir semua ilmuwan mengatakan hal yang sama padanya bahwa kemungkinan Virus Corona berakhir pada April.

“Nah modeling yang dibuat teman-teman dari Universitas Gadjah Mada ada Professor Corita, ada Professor Yodi di sana, ada lagi dari ITB.”

“Mereka bilang yang sama, mereka bikin modeling, jadi dibilang saya enggak pintar memang bukan ahlinya.”

“Tapi kan kalau tiap hari diberi tahu masak saya enggak ngerti, ya ngertilah,” jelasnya.

Dari yang dikatakan oleh ilmuwan, cuaca yang panas serta daya tahan tubuh manusia itu bisa memengaruhi ketahanan terhadap Virus Corona.

Meski demikian hal itu akan sia-sia bila masyarakat masih berkumpul dan tak menjaga jarak.

“Bahwa mereka katakan posisi kita di equator ini memang menguntungkan, karena Covid-19 itu terhadap panas tinggi dan imunity tinggi, itu enggak kuat.”

“Tapi ada kalau kita berkerumun ini enggak jadi artinya,” ucapnya.

Namun, jika memang masyarakat patuh untuk tetap menjaga jarak maka kemungkinan masalah Virus Corona di Indonesia akan lebih cepat selesai dibanding negara di wilayah Utara dan Selatan.

“Tapi kalau kita bikin jaga jarak bagus ini bikin cepat dari negara-negara di posisi di Utara atau Selatan,” lanjut Menteri 72 tersebut.

Luhut menerangkan bahwa pemerintah selama ini menetapkan kebijakan dengan melibatkan para ilmuwan.

“Jadi kita harus manfaatkan, nah ini kan informasi menata strategi kita, jadi mesti orang paham itu,” ucap dia.

Ilmuan Matematika Prediksi Puncak Virus Corona April

Sebelumnya,ilmuan Matematika Terapan University of Essex, Inggris Hadi Susanto mengungkap skenario terburuk Virus Corona di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Hadi Susanto melalui sambungan telepon Sapa Indonesia Malam Kompas TV pada Kamis (27/3/2020).

Hadi Susanto memprediksi bahwa skenario terburuk Virus Corona bisa menjangkit lima puluh persen warga yang berada di Jakarta.

Dalam tayangan tersebut, Hadi Susanto diminta untuk menjelaskan bagaimana ia bisa memperoleh hitangan bahwa ada kemungkinan 50 persen warga Jakarta terinfeksi Corona.

“Pernyataan Anda dikutip oleh sejumlah media baik di Indonesia maupun di luar negeri menyatakan bahwa kalau kemudian diambil sampel populasi Jakarta sekitar 10 juta bisa jadi pada Worst Scenario atau skenario terburuk, 50 persen dari populasi dapat terinfeksi dalam 50 hari setelah kasus pertama diumumkan presiden, 2 Maret yang lalu.”

“Hitungannya bagaimana dan dari mana?,” tanya presenter awalnya.

Hadi lantas menjawab bahwa perhitungan dalam Matematika itu banyak versinya.

“Kalau perhitungan dalam Matematika sebenarnya ada banyak versinya.”

“Kalaupun orang itu menggunakan model yang sama itu bergantung dari parameter yang dipakai,” ujar Hadi.

Hadi mengatakan dirinya menggunakan model SGR yang dibagi dalam tiga kelompok.

“Saya itu menggunakan model yang namanya itu SGR atau speer model.”

“Jadi diasumsikan orang itu bisa dikelompokkan dalam tiga golongan, orang sehat yang punya potensi terkena infeksi, kelompok orang yang terifeksi, dan kelompok orang yang sembuh atau meninggal,” jelasnya.

Dengan model tersebut Hadi mengatakan bahwa puncak dari Virus Corona diperkirakan akan terjadi pada akhir April.

Yaitu dua bulan setelah kasus pertama muncul pada 2 Maret 2020.

“Menggunakan model ini saya menghitung kalau seandainya tiap orang punya atau akan menginfeksi dua orang lain hingga terus bertambah begitu dan jika ada asumsi masa inkubasinya berapa lama dia sakit sampai sembuh, nah itu saya dapatnya sekitar dua bulan itu,” ucap Hadi.

Mendengar penjelasan tersebut, pembawa acara lantas mencoba memastikan kemungkinan bulan puncak kasus.

“Jadi menurut perhitungan Anda, kemungkinan besar puncaknya akan 50 persen populasi, ini pakai Jakarta saja ini dapat terinfeksi dalam 50 hari, artinya ini sekitar bulan April ya pak,” tanya sang presenter.

Hadi membenarkan pertanyaan sang reporter.

Ia lantas menyebutkan bahwa perhitungan matematika itu ada asumsi yang dipakai.

“Atau akhir April, itu ada asumsinya. Kalau di Matematika itu sebetulnya kita tidak bisa langsung berbicara proyeksi atau prediksinya, jadi ada asumsi yang dipakai.”

“Nah asumsi ini yang kadang suka tidak diperhatikan,” ungkapnya.

Ia memprediksi separuh populasi Jakarta bisa terkena apabila asumsinya adalah masyarakat tidak merubah perilakunya.

Jika memang masyarakat masih tetap berinteraksi dan berkumpul seperti biasa maka skenario terburuk tersebut bisa saja terjadi.

Namun, jika masyarakat sudah mengubah perilakunya untuk tetap berada di dalam rumah dan menghindari interaksi, maka hasil yang didapat bisa berubah.

“Jadi misalkan saya asumsikan bahwa sejak awal Maret atau akhir Februari itu seandainya tidak ada perubahan perilaku, seseorang masih berinteraksi seperti biasa, terus masih berkumpul, jadi ini asumsi pentingnya.”

“Seandainya asumsi ini tidak dipenuhi maka prediksi saya atau proyeksi yang saya buat itu tidak berlaku lagi,” tuturnya.(RD7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *