ASPIRASIPOS.COM

BEDA & BERIMBANG

Menyoal Program Bibit Lada Sambung, Petani Lada: Lebih Baik Tingkatkan Harga Jual

Pangkalpinang — Aspirasipos.com, Lada dikenal tanaman kaya akan kandungan kimia. Seperti minyak lada, pati dan juga minyak lemak. Pada umumnya lada dimanfaatkan sebagai bumbu dapur. Ada dua jenis lada yaitu lada hitam dan lada putih, Rabu (13/05/2020).

Dilihat dari segi ekonomi harga pasar, seperti dilansir radarjogja, lada termasuk jenis rempah mahal dan banyak sekali diminati orang. Meskipun menanam jenis tanaman ini tidaklah mudah.  

Sementara itu, Pemkab Bangka Tengah baru saja menginisiasi program tanaman lada sambung, dimana prakteknya tanaman lada akan disambung dengan tanaman malada dengan tujuan menghindari kerusakan pada penyakit busuk pangkal batang. 

“Saya meminta penyuluh mendampingi para para petani untuk menerapkan pola penyambungan tanaman malada dengan lada agar bisa berhasil,” ujar Bupati Bangka Tengah Ibnu Shaleh, dikutip Antara. 

Disaat yang sama, Kepala Dinas Pertanian Pemkab Bangka Tengah, Sajidin saat dihubungi redaksi, Ia mengatakan bahwa pola sambung pucuk dengan malada ini diakuinya baru pada tahap uji coba.

“Tujuannya untuk mengurangi  penyakit busuk pangkal batang dan penyakit kuning, sehingga diharapkan hidupnya akan lebih lama,” ujar Sajidin. 

Ketika disinggung oleh media terkait masih anjloknya harga lada yang sama-sama diketahui ada di kisaran angka 56 ribu hingga 85 ribu per kilogramnya. Sajidin menyatakan sudah dilakukan dua upaya soal tadi.

“Pemda sudah melakukan upaya mengurangi biaya produksi dengan mengganti junjung kayu memakai junjung hidup,” ucap dia.

Sajidin juga mengakui bahwa program sambung lada ini masih tahapan uji coba, sehingga sumber pendanaan masih swakelola.

“Dana masih swakelola karena masih uji coba dan masuk skala kecil,” tandasnya.

Terpisah, salah satu sumber redaksi seorang petani lada di kawasan Kecamatan Mendo Bangka Barat, menuturkan pada media, kalau soal tanaman lada menggunakan pola sambung seperti tadi, justru tidak laku di kalangan petani lada. 

“Kalau kami di kampung kan enggak pakai tanaman lada sambung kayak itu, yang alami sajalah. Harusnya pemerintah lebih perhatikan harga jual lada, bagaimana agar bisa kembali seperti dulu,” kata sumber. 

Sumber sebut, dirinya pernah menanam lada dengan memakai polybag yang diketahui sempat ada pada waktu yang lalu. Namun menurut sumber, ketahanan tanaman lada terhadap bibit penyakit tidak kuat, justru yang ditanam secara alami yang lebih tahan terhadap hama penyakit.

“Iya saya kira (mungkin) sekedar proyek saja itu (tanam sambung pucuk), kalau pakai pola yang alami tanaman lada itu bisa sampai lima tahun. Kalau pakai yang seperti tadi paling cuma sampai tiga tahun sudah mati tanaman ladanya,” kata sumber.

Sekedar info, dalam laman lpse Provinsi Babel, Tender Proyek Tanaman Lada dalam Polybag Kegiatan Rehabilitasi Tanaman Lada Seluas 1700 Hektare, diketahui senilai 12,9 miliar rupiah. Dimenangkan oleh PT Tunas Agroindo Semesta dan telah teken kontrak di 23 April 2020 yang lalu.

Tak hanya itu, Pemprov Babel melalui Dinas Pertanian mengadakan Tender Benih Lada Dalam Polybag APBN seluas 150 Hektare senilai 2,280 miliar di Kabupaten Belitung. Yang dimenangkan oleh  PT Langgeng Duta Bersama di 27 Maret 2020. 

Lainnya, Tender Benih Lada Dalam Polybag sumber dana APBN, dengan Pagu dana 5,3 miliar seluas 700 Hektare dimenangkan oleh perusahaan yang sama

“Kalau angkanya sampai belasan miliar, nah itu yang harus dimonitor oleh teman-teman media, jangan sampai harapan petani lada justru dimanfaatkan oleh segelintir oknum,” tutup sumber. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *